Local Band Indonesia
Senin, 25 Januari 2016
latar belakang band indie float
Float adalah sebuah band yang didirikan pada tanggal 30 Agustus 2004
oleh Hotma "Meng" Roni Simamora, Windra "Bontel" Benyamin, dan Raymond
Agus Saputra. Pada awal tahun 2005 Float merilis mini albumnya yang
berjudul "No-Dream Land" secara independen. Mini album ini menarik
perhatian produser film Mira Lesmana yang kemudian meminta Float mengisi
album soundtrack untuk film "3 Hari Untuk Selamanya" (2007) yang
disutradarai Riri Riza. Dengan album soundtrack tersebut, Float
memperoleh penghargaan bergengsi seperti Abhinaya Trophy untuk
Soundtrack Terbaik di ajang Jakarta Film Festival dan Best Theme Song di
ajang penganugerahan MTV Indonesian Movie Awards, semuanya didapat di
tahun yang sama, 2007. Pada tahun 2008, lagu yang berjudul “Surrender”
digunakan sebagai lagu tema promosi film seri yang berjudul "Heroes"
(Season 2) produksi Satellite Television for the Asian Region (STAR),
sebuah televisi satelit berbayar yang berbasis di Hong Kong. Di tahun
yang sama, dengan lagu “Waltz Musim Pelangi”, Float ikut berkolaborasi
dalam album kompilasi “Songs Inspired by Laskar Pelangi” (Miles Music /
Trinity Optima). Berselang 4 tahun kemudian, Float menelurkan “Songs Of
Seasons” yang dirancang khusus sebagai lagu tema iklan tv “Wonderful
Indonesia”, salah satu media kampanye promosi pariwisata Kementrian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
PROFIL DAN BIOGRAFI GUGUN BLUES SHELTER BAND
Dibentuk pada tahun 2004 dengan nama The Blues Bug, namun karena nama tersebut sudah lebih dahulu digunakan selama 10 tahun oleh sebuah grup band asal Yunani, kemudian diubah namanya menjadi Blue Hand Gang, dan akhirnya menjadi Gugun Blues Shelter sampai saat mini.
Gugun Blues Shelter adalah grup musik tanah air yang beraliran blues, dengan personilnya terdiri dari: Gugun (gitaris), Jono (bas), dan Bowie (drum). Musik Gugun Blues Shelter banyak dipengaruhi oleh lagu – lagu dari Steve Ray Vaughan, Betty Davis, Jimi Hendrix, dan Led Zeppelin.
Gugun (Muhammad Gunawan) sendiri sudah mulai belajar memainkan gitar diusianya yang baru 6 tahun, saat masih berdomisili di Perumahan Caltex, Duria – Riau. Saat remaja Gugun sering bermain musik disebuah Cafe kecil (BBs Cafe Menteng). Disinilah dia bertemu dengan Jono sang basis.
Jono (Jonathan Armstrong) adalah warga negara Inggris yang menetap di Australia. Kemudian datang ke Indonesia awalnya untuk berlibur ke Aceh hingga akhirnya bertemu dengan Gugun di Jakarta.
Bowie (Adityo Wibowo) merupakan drumer yang direkrut oleh Gugun saat mereka pernah beberapa kali jamming. Gugun yang memang sedang mencari seorang drumer jazz yang punya power pukulan keras, melihat bahwa kriterianya itu ada pada Bowie.
Album pertama mereka diakhir tahun 2004, berjudul “Get The Bug”. Drummer Gugun Blues Shelter saat itu adalah Iskandar.
Pada awal tahun 2007, Gugun Blues Shelter merilis album kedua berjudul “Turn It On”. Di album ini Gugun terpilih sebagai The Number One Blues Of The Year 2007 (Gitaris Blues Terbaik Asia Tenggara 2007) oleh MTV Trax Magazine.
Album ini juga mendapat penghargaan The Album Was Voted As One Of The Best Indonesian Album Of 2007 (Album Indonesia Terbaik 2007), dari Majalah Rolling Stone Indonesia.
Ditahun 2008 posisi Iskandar pada drum digantikan oleh Bowie.
Tahun 2010 Gugun Blues Shelter kembali meluncurkan album ketiga mereka yang berjudul “Gugun Blues Shelter”. Dialbum ini, lagu “When I See You Again” menjadi lagu blues favorit pada The Indonesia Edge Music Awards.
Gugun Blues Shelter pada tahun 2011 terpilih memenangi kompetisi The Hard Rock Cafe’s Global Battle Of The Bands (memperingati ulang tahun Hard Rock Cafe ke-40). Saat itu mereka tampil di Hyde Park bersama Bon Jovi, The Killers, dan Rod Steward.
Ditahun yang sama, beberapa lagu Gugun Blues Shelter yang dipilih dari album pertama sampai ke tiga mengisi album kompilasi Far East Blues Experience, dibawah label Grooveyards Records, asal Amerika.
Gugun Blues Shelter tidak hanya dikenal di Indonesia saja, namun penggemar mereka bahkan sampai ke Eropa. Gugun Blues Shelter sudah pernah melakukan tour ke beberpa kota di Inggris.
sejarah band indie NAIF
NAIF adalah grup musik Indonesia yang berdiri pada tanggal 22 Oktober 1995 di Jakarta dan terdiri dari Emil (Mohammad Amil Hussein, bass), David (David Bayu Danang Jaya, vokal), Jarwo (Fajar Endra Taruna, gitar), Pepeng (Franki Indrasmoro Sumbodo, drum) & Chandra
(Keyboard, mengundurkan diri paa tahun 2003). Sampai tahun 2009, grup
ini telah menghasilkan enam album, satu album kompilasi dan satu live
album. Di 2010 mereka berencana mengeluarkan album terbaru mereka yang
bertajuk "Planet Cinta".
Sejarah Retro
Berawal pada sebuah kampus seni di Jakarta, tepatnya di Cikini Raya 73, kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), NAIF
terbentuk. Beberapa orang mahasiswa tingkat satu dari kelas pendidikan
dasar seni rupa kerap kali menginap di rumah teman mereka secara
bergiliran. Tujuan awal hanyalah untuk mengerjakan tugas kuliah bersama.
Tapi yang terjadi mereka seringkali malah nongkrong sambil
bernyanyi-nyanyi dan bermain gitar semalam suntuk, sampai terkadang
malah lupa mengerjakan tugas karena tertidur. Siapa sangka semua itu
akan menjadi sebuah awal karir mereka di dunia musik. Suatu saat di
pertengahan tahun 1995, David, Pepeng dan Jarwo bermalam di rumah
seorang teman yang bernama Shendi Adam (bassist Rumahsakit – asal IKJ).
Seperti biasa, awalnya hanya untuk mengerjakan tugas kuliah, namun yang
terjadi – seperti yang telah disebutkan tadi – mereka malah bernyanyi
dan bermain gitar semalaman. Di malam itu pula mereka tiba-tiba membuat
sebuah lagu, terinspirasi dari sebuah konser akustik Nirvana yang mereka
saksikan di MTV sebelumnya. Lagu tersebut akhirnya mereka beri judul
“Jauh” (NAIF, Debut Album).
Pada saat berikutnya keisengan mereka ternyata berkembang dengan seringnya mereka menyewa studio latihan band dan menyanyikan lagu-lagu karya mereka sebagai sisipan. Di saat inilah formasi mengalami pergantian, hanya tiga orang saja yang dari awal bertahan, yaitu Jarwo, David dan Pepeng. Hingga suatu saat Chandra datang mengisi kekosongan, disusul Emil. Mereka berlima masing-masing memang memiliki jam terbang sebagai anak band. Bahkan sebelum formasi ini terbentuk mereka secara terpisah pernah berkolaborasi pula. Seperti contohnya David pernah tergabung dalam satu band bersama Emil tanpa Jarwo dan lainnya. Dan selanjutnya seperti ditukar-tukar saja.
Dengan posisi David pada vokal, Jarwo pada gitar, Chandra pada keyboard, Emil pada bass dan Pepeng pada drum, NAIF mulai aktif mengisi acara-acara kampus IKJ. Lagu-lagu ciptaan sendiri lainnya pun menyusul, seperti “Benci Libur”, “Piknik ‘72”, dan lain-lain. Sedangkan nama NAIF didapat dari seorang teman yang bernama Dodot, yang menilai lagu-lagu mereka terdengar begitu sederhana, namun tetap berisi dan terdengar harmonis. Selain itu, kata “NAIF” pun mudah diingat.
Suatu saat di tahun 1996, NAIF mendapat kabar dari Irwan Ahmett, seorang teman – disainer grafis, bahwa sebuah perusahaan rekaman berlabel Bulletin Records (PT. Indosemar Sakti) berencana akan merilis sebuah album kompilasi. Karena tertarik akan proyek tersebut maka NAIF menawarkan demo kaset yang telah mereka buat sebelumnya kepada perusahaan rekaman tersebut. Tanpa diduga ternyata sang produser tak memasukkan NAIF dalam proyek kompilasi tersebut, tapi justru berniat membuatkan album rekaman sendiri untuk NAIF. Tentu saja NAIF sangat gembira. Setelah melalui berbagai prosedur tertentu, NAIF akhirnya masuk studio rekaman dan berhasil menelurkan debut album NAIF dengan “Mobil Balap” sebagai tembang jagoannya.
NAIF tak pernah mengklaim diri bahwa mereka adalah band dengan aliran ini atau itu. Terserah apa kata penikmat musik mereka tentang jenis musik yang mereka usung. NAIF anti mengkotak-kotakkan jenis musik. Misi NAIF adalah menawarkan alternatif warna musik yang berbeda dari yang ada adalam industri mainstream di Indonesia. Yang pasti tetap berusaha jujur dala berkarya.
Retro. Banyak yang mengklasifikasikan musik NAIF sebagai musik retro. Itu karena kebetulan Emil, David, Jarwo, Pepeng, dan Chandra (pada saat itu) menyukai musik-musik lama yang kemudian berpengaruh terhadap karya yang mereka buat. Walau demikian, tak menutup kemungkinan music NAIF akan mengalir dengan tetap mempertahankan ciri mereka, karena bagaimanapun NAIF tetaplah manusia masa kini, yang hidup dan bersosialisasi di masa kini.
Bukan maksud melucu bila dalam aksi panggung NAIF, David sang vokalis mengeluarkan jurus-jurus saktinya yang kerap membuat penonton terpingkal-pingkal. Itu memang sudah menjadi sifatnya sehari-hari, yang kemudian ia bawa ke atas panggung sebagai media interaksi terhadap penonton. Namun tetap, mereka berlima serius dalam berkarya. Hanya saja, menurut mereka, konsep musik dan hiburan yang mereka tawarkan di setiap penampilan NAIF masih tergolong beda dari semua yang ada di Indonesia, sehingga mereka sering dianggap lucu atau unik. Intinya, mereka juga ingin menunjukkan, bahwa di balik segala hal dalam musik NAIF terdapat suatu usaha yang serius untuk menghasilkan sebuah karya yang idealis. Idealis ala NAIF.
NAIF 2003 - Sekarang
Tahun 2003… Setelah sewindu penuh NAIF berkiprah di entertainment, Chandra memutuskan untuk mengundurkan diri dari band. Chandra memiliki alasan sendiri atas keputusannya. Ia ingin meneruskan karirnya di dunia yang sesuai dengan pendidikan akademisnya, disain grafis. Hal ini tentu sempat membuat keempat rekannya kecewa. Namun itu tak berlangsung lama. Kini NAIF resmi berempat : Emil, David, Jarwo dan Pepeng.
Mereka bertekad untuk tetap meneruskan pergelutan mereka di blantika musik Indonesia dengan keNAIFan mereka yang saat ini sudah berdikari di bawah naungan perusahaan rekaman mereka sendiri Electrified Records.
Sejarah Retro
Berawal pada sebuah kampus seni di Jakarta, tepatnya di Cikini Raya 73, kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), NAIF
terbentuk. Beberapa orang mahasiswa tingkat satu dari kelas pendidikan
dasar seni rupa kerap kali menginap di rumah teman mereka secara
bergiliran. Tujuan awal hanyalah untuk mengerjakan tugas kuliah bersama.
Tapi yang terjadi mereka seringkali malah nongkrong sambil
bernyanyi-nyanyi dan bermain gitar semalam suntuk, sampai terkadang
malah lupa mengerjakan tugas karena tertidur. Siapa sangka semua itu
akan menjadi sebuah awal karir mereka di dunia musik. Suatu saat di
pertengahan tahun 1995, David, Pepeng dan Jarwo bermalam di rumah
seorang teman yang bernama Shendi Adam (bassist Rumahsakit – asal IKJ).
Seperti biasa, awalnya hanya untuk mengerjakan tugas kuliah, namun yang
terjadi – seperti yang telah disebutkan tadi – mereka malah bernyanyi
dan bermain gitar semalaman. Di malam itu pula mereka tiba-tiba membuat
sebuah lagu, terinspirasi dari sebuah konser akustik Nirvana yang mereka
saksikan di MTV sebelumnya. Lagu tersebut akhirnya mereka beri judul
“Jauh” (NAIF, Debut Album).Pada saat berikutnya keisengan mereka ternyata berkembang dengan seringnya mereka menyewa studio latihan band dan menyanyikan lagu-lagu karya mereka sebagai sisipan. Di saat inilah formasi mengalami pergantian, hanya tiga orang saja yang dari awal bertahan, yaitu Jarwo, David dan Pepeng. Hingga suatu saat Chandra datang mengisi kekosongan, disusul Emil. Mereka berlima masing-masing memang memiliki jam terbang sebagai anak band. Bahkan sebelum formasi ini terbentuk mereka secara terpisah pernah berkolaborasi pula. Seperti contohnya David pernah tergabung dalam satu band bersama Emil tanpa Jarwo dan lainnya. Dan selanjutnya seperti ditukar-tukar saja.
Dengan posisi David pada vokal, Jarwo pada gitar, Chandra pada keyboard, Emil pada bass dan Pepeng pada drum, NAIF mulai aktif mengisi acara-acara kampus IKJ. Lagu-lagu ciptaan sendiri lainnya pun menyusul, seperti “Benci Libur”, “Piknik ‘72”, dan lain-lain. Sedangkan nama NAIF didapat dari seorang teman yang bernama Dodot, yang menilai lagu-lagu mereka terdengar begitu sederhana, namun tetap berisi dan terdengar harmonis. Selain itu, kata “NAIF” pun mudah diingat.
Suatu saat di tahun 1996, NAIF mendapat kabar dari Irwan Ahmett, seorang teman – disainer grafis, bahwa sebuah perusahaan rekaman berlabel Bulletin Records (PT. Indosemar Sakti) berencana akan merilis sebuah album kompilasi. Karena tertarik akan proyek tersebut maka NAIF menawarkan demo kaset yang telah mereka buat sebelumnya kepada perusahaan rekaman tersebut. Tanpa diduga ternyata sang produser tak memasukkan NAIF dalam proyek kompilasi tersebut, tapi justru berniat membuatkan album rekaman sendiri untuk NAIF. Tentu saja NAIF sangat gembira. Setelah melalui berbagai prosedur tertentu, NAIF akhirnya masuk studio rekaman dan berhasil menelurkan debut album NAIF dengan “Mobil Balap” sebagai tembang jagoannya.
NAIF tak pernah mengklaim diri bahwa mereka adalah band dengan aliran ini atau itu. Terserah apa kata penikmat musik mereka tentang jenis musik yang mereka usung. NAIF anti mengkotak-kotakkan jenis musik. Misi NAIF adalah menawarkan alternatif warna musik yang berbeda dari yang ada adalam industri mainstream di Indonesia. Yang pasti tetap berusaha jujur dala berkarya.
Retro. Banyak yang mengklasifikasikan musik NAIF sebagai musik retro. Itu karena kebetulan Emil, David, Jarwo, Pepeng, dan Chandra (pada saat itu) menyukai musik-musik lama yang kemudian berpengaruh terhadap karya yang mereka buat. Walau demikian, tak menutup kemungkinan music NAIF akan mengalir dengan tetap mempertahankan ciri mereka, karena bagaimanapun NAIF tetaplah manusia masa kini, yang hidup dan bersosialisasi di masa kini.
Bukan maksud melucu bila dalam aksi panggung NAIF, David sang vokalis mengeluarkan jurus-jurus saktinya yang kerap membuat penonton terpingkal-pingkal. Itu memang sudah menjadi sifatnya sehari-hari, yang kemudian ia bawa ke atas panggung sebagai media interaksi terhadap penonton. Namun tetap, mereka berlima serius dalam berkarya. Hanya saja, menurut mereka, konsep musik dan hiburan yang mereka tawarkan di setiap penampilan NAIF masih tergolong beda dari semua yang ada di Indonesia, sehingga mereka sering dianggap lucu atau unik. Intinya, mereka juga ingin menunjukkan, bahwa di balik segala hal dalam musik NAIF terdapat suatu usaha yang serius untuk menghasilkan sebuah karya yang idealis. Idealis ala NAIF.
NAIF 2003 - Sekarang
Tahun 2003… Setelah sewindu penuh NAIF berkiprah di entertainment, Chandra memutuskan untuk mengundurkan diri dari band. Chandra memiliki alasan sendiri atas keputusannya. Ia ingin meneruskan karirnya di dunia yang sesuai dengan pendidikan akademisnya, disain grafis. Hal ini tentu sempat membuat keempat rekannya kecewa. Namun itu tak berlangsung lama. Kini NAIF resmi berempat : Emil, David, Jarwo dan Pepeng.
Mereka bertekad untuk tetap meneruskan pergelutan mereka di blantika musik Indonesia dengan keNAIFan mereka yang saat ini sudah berdikari di bawah naungan perusahaan rekaman mereka sendiri Electrified Records.
Senin, 02 November 2015
Pacenogei - Senandung Musik dari Indonesia Timur
Bangga Musik Indonesia!
Hi
localindo! di post pertama ini, kami pengen ngasih tau tentang
keberadaan trio kece yang datangnya dari Papua!namanya "Pacenogei"
Pacenogei ini terdiri dari 3 pria yaitu @michaeljpapua, @nobo_pacinoge dan @stephen_theray. Mereka sudah ngeluarin album judulnya "Ini Papua" dengan single pertamanya yang berjudul "Su Terlalu Lama"
Mereka berani tampil beda dengan bernyanyi menggunakan bahasa papua loh. Keren dan unik bukan?
Album
"Ini Papua" di produksi oleh Alenia Productions dan ada lagi yang keren
dari penjualan album "Ini Papua". Setiap hasil dari penjualan album
"Ini Papua" akan didonasikan untuk pendidikan dan kesehatan anak-anak di
Papua!
Kita sebagai generasi muda, harus bangga dan mendukung adanya musik Indonesia yang berkualitas. Dengan cara kita aware, support, membeli dan memakai produk lokal. Mari apresiasi karya anak bangsa. Jangan beli CD bajakan ya 😜 kamu bisa liat info lebih lanjut mengenai musik mereka di @alenia259 ya!
Aku sih lokal, kamu?
photo cred: @alenia259
Langganan:
Komentar (Atom)
